Membangun Assertiveness I-Win-You-Win
Di suatu kesempatan dalam sebuah pelatihan komunikasi efektif, kami sampai pada topik mengenai pentingnya membangun assertiveness (I win, you win – saya menang, Anda pun menang) ketika berkomunikasi dengan pihak lain. Ini karena assertiveness adalah salah satu kunci tercapainya komunikasi efektif.
Assertiveness merupakan kemampuan kita untuk berkomunikasi asertif. Asertif berasal dari bahasa Inggris: assertive yang berarti tegas. Assertion = pernyataan yang tegas (pasti, tidak ragu-ragu lagi, tidak samar-samar). Jadi, berkomunikasi asertif adalah berkomunikasi dengan pihak lain dengan tegas, tidak ragu-ragu.
Berkomunikasi asertif selanjutnya didefinisikan sebagai berkomunikasi, diikuti oleh ekspresi, perasaan, pemikiran, dan kepercayaan seseorang dengan jujur kepada pihak-pihak yang berkomunikasi dengan kita, baik dengan atasan, bawahan, maupun dengan pasangan di rumah, juga dengan anak-anak di rumah.
Skill komunikasi asertif harus dilatih terus-menerus, terutama bagaimana kita mengekspresikan sesuatu dengan jujur, jika kita tidak menyetujui sesuatu.
“Jadi, bagaimana cara Bapak atau Ibu berkomunikasi dengan pihak lain selama ini? Apakah sudah berkomunikasi secara asertif dengan atasan, dengan bawahan, dengan pasangan di rumah?” Saya melemparkan pertanyaan tersebut pada sore hari itu.
Tiba-tiba seorang pria setengah baya, Pak John (bukan nama sebenarnya), nyeletuk, “Saya mana bisa, Bu… berkomunikasi dengan cara asertif dengan orang rumah (maksudnya adalah istri di rumah)? Mending diam (pasif) deh daripada ribut...”
Mendengar celetukan Pak John, tentu saja para peserta yang lain serentak tertawa. Karena mereka banyak yang saling mengenal, terjadilah celetukan-celetukan yang saling menyusul; ada yang mendukung, ada yang mencemooh, ada yang hanya senyum-senyum. Sore hari itu, suasana kelas menjadi gegap-gempita penuh tawa.
Mencapai Sasaran Komunikasi
Mengapa kita sering tidak bisa berkomunikasi asertif dengan pihak lain? Padahal, berkomunikasi asertif sangat penting untuk mencapai sasaran proses komunikasi kita, yaitu agar siapa pun memahami sikap dan perilaku kita dengan jelas tanpa ragu-ragu, sehingga meminimalkan terjadinya miscommunication, karena pihak lain tidak mengartikan hal yang lain/hal yang salah dari komunikasi kita.
Assertiveness adalah sikap yang positif dan percaya diri dalam mengekspresikan diri kita sendiri, termasuk di dalamnya mengekspresikan ide, opini, dan talenta kita.
Pak John dibesarkan di sebuah keluarga yang baik. Seluruh anaknya sangat menghormati orang tuanya, termasuk Pak John. Saking ingin menghormati kedua orang tuanya, Pak John tidak pernah menolak perintah orang tuanya dan selalu melaksanakan setiap keinginan orang tuanya, apa pun situasinya.
Sikap yang selalu mengalah dan tidak pernah menolak orang tuanya menjadi kebiasaan dan akhirnya menjadi budaya yang melekat pada diri Pak John. Sikap ini terbawa sampai dewasa. Bahkan, sampai bekerja dan berkeluarga, sikap ini pun mendominasi Pak John. Budaya keluarga sangat berpengaruh terhadap pembentukan skill assertiveness.
Dalam sebuah penelitian di kalangan remaja, dinyatakan bahwa perilaku asertif remaja diperlukan untuk menghadapi kuatnya pengaruh negatif dari teman sebaya dan pengaruh lingkungannya dalam pembentukan asertivitas pada remaja tersebut.
Baumrind (dalam Berk, 2000) menegaskan bahwa dalam pembentukan asertivitas anak, orang tua sendiri di dalam keluarga juga harus bersikap asertif dalam menghadapi keinginan anak-anaknya. Dengan sendirinya, orang tua memberikan model yang mendukung tumbuhnya perilaku asertif anaknya.
Pola komunikasi kita sebagai orang tua dalam budaya keluarga kita ternyata sangat berpengaruh bagi kemampuan komunikasi efektif anak-anak generasi penerus kita yang akan membawa mereka pada sebuah keberhasilan menjadi seorang pemimpin di bidang mereka masing-masing. To the world, we may be just somebody. But to somebody, we may be the world.
Pak John di sela rehat kopi sore itu menyatakan komitmennya sebagai seorang ayah bahwa mulai hari itu ia akan membangun budaya asertif menjadi bagian dari budaya keluarganya. Apalagi Pak John menyadari bahwa dalam dunia global saat ini, skill assertiveness sudah menjadi tuntutan skill yang harus dikuasai dalam berkomunikasi dengan pihak lain.
Pak John ingin anak-anaknya memiliki skill assertiveness dalam berkomunikasi dengan pihak lain, sehingga anak-anaknya dapat percaya diri dalam mengekspresikan diri sendiri dan lebih efektif dalam berkomunikasi dengan pihak mana pun.
Hasilnya, seseorang yang memiliki skill assertiveness akan dapat mengembangkan diri dalam pekerjaan/karier sesuai dengan bidangnya. Wisdom is knowing when to speak your mind and when to mind your speech.






Belum Ada Komentar